Guru di Era Metaverse dan AI: Mari Kembali Menyalakan Api Literasi

OPINI 11 Sep 2026 22:06 • 12 min read • 38 views • By Bono Kris

Share berita ini

Guru di Era Metaverse dan AI: Mari Kembali Menyalakan Api Literasi
Dunia pendidikan sedang bergerak menuju sebuah perubahan besar. Kita memasuki zaman ketika ruang belajar tidak lagi selalu berupa empat dinding kelas. Konsep metaverse menawarkan kemungkinan hadirnya ruang belajar virtual yang memungkinkan peserta didik menjelajah, berinteraksi, mengalami, dan belajar dengan cara yang semakin imersif. Belum selesai kita memahami perubahan itu, hadir pula Artificial Intelligence (AI). ChatGPT, Gemini, dan berbagai perangkat AI lainnya mampu membantu manusia menemukan informasi, menyusun gagasan, membuat gambar, merancang pembelajaran, bahkan membantu menghasilkan tulisan dalam hitungan detik. Perubahan ini seharusnya tidak membuat guru takut. Sebaliknya, inilah saatnya guru kembali memperkuat satu kemampuan yang sejak dahulu menjadi jantung pendidikan: literasi.

Guru di Era Metaverse dan AI: Mari Kembali Menyalakan Api Literasi

 

Dunia pendidikan sedang bergerak menuju sebuah perubahan besar. Kita memasuki zaman ketika ruang belajar tidak lagi selalu berupa empat dinding kelas. Konsep metaverse menawarkan kemungkinan hadirnya ruang belajar virtual yang memungkinkan peserta didik menjelajah, berinteraksi, mengalami, dan belajar dengan cara yang semakin imersif.

Belum selesai kita memahami perubahan itu, hadir pula Artificial Intelligence (AI). ChatGPT, Gemini, dan berbagai perangkat AI lainnya mampu membantu manusia menemukan informasi, menyusun gagasan, membuat gambar, merancang pembelajaran, bahkan membantu menghasilkan tulisan dalam hitungan detik.

Perubahan ini seharusnya tidak membuat guru takut.

Sebaliknya, inilah saatnya guru kembali memperkuat satu kemampuan yang sejak dahulu menjadi jantung pendidikan: literasi.

 

Perpustakaan: Tempat Saya Berkeliling Dunia

Saya pernah menjadi seorang yang sangat introvert.

Pada masa muda, hidup saya juga cukup nomaden. Berpindah dari satu tempat ke tempat lain, bertemu dengan banyak orang, menjalani berbagai pengalaman. Namun, anehnya, saya hampir tidak pernah merasa benar-benar kesepian. Saya menemukan sebuah tempat yang selalu bisa saya datangi, ke mana pun saya berada: perpustakaan.

 

·         Bagi sebagian orang, perpustakaan mungkin hanyalah ruangan yang dipenuhi rak dan buku. Bagi saya, perpustakaan adalah pintu menuju dunia yang tidak berbatas.

·         Ketika membuka sebuah buku, saya bisa pergi ke Jepang tanpa membeli tiket pesawat. Saya bisa berjalan-jalan di Eropa, mengenal kehidupan di Amerika, membaca pemikiran para filsuf, memahami kebudayaan bangsa-bangsa, atau menyelami kehidupan manusia dari berbagai zaman.

·         Saya berkeliling dunia hanya dengan duduk diam.

·         Saya belajar tentang apa saja yang menarik perhatian saya. Kadang-kadang saya membaca cerita yang sederhana dan ringan. Tidak perlu terlalu serius. Saya menikmatinya sebagaimana orang menikmati percakapan santai bersama seorang sahabat.

 

Tetapi pada kesempatan lain, saya bisa berlama-lama pada sebuah buku yang penuh dengan filsafat, pemikiran, atau kebijaksanaan hidup. Saya membacanya perlahan. Berhenti pada satu paragraf. Membacanya kembali. Merenungkannya. Kadang-kadang sebuah kalimat membuat saya berhenti cukup lama karena menemukan sesuatu yang selama ini saya cari.

Saya juga belajar beberapa bahasa, tentu sejauh kemampuan saya. Tidak selalu berhasil dengan sempurna. Tetapi bagi saya, mempelajari bahasa berarti membuka sebuah jendela baru untuk melihat dunia.

 

Semakin banyak bahasa yang saya kenal, semakin luas pula dunia yang bisa saya masuki.

 

Dari sanalah saya menemukan kebahagiaan yang sederhana: rasa ingin tahu.

Mungkin karena terlalu banyak membaca, ada kalanya saya menemukan sesuatu yang lucu dalam sebuah cerita jauh sebelum orang lain menangkap kelucuannya. Saya sudah tertawa, sementara teman-teman masih belum memahami mengapa saya tertawa. Baru beberapa saat kemudian mereka menangkap maksudnya dan ikut tertawa.

Begitulah membaca bekerja dalam diri saya.

Ia membuat saya memiliki cara pandang yang sedikit berbeda terhadap kehidupan.

Bahkan ketika berada di kelas, saya sering merasa demikian. Jika saya sudah merasa cukup memahami apa yang sedang dibicarakan, saya merasa tidak perlu berlama-lama. Tetapi ketika menemukan sesuatu yang benar-benar menarik dan membutuhkan pemahaman yang lebih dalam, saya justru bisa bertahan sangat lama.

 

Saya belajar bukan karena dipaksa, tetapi karena ingin tahu.

Dan menurut saya, di situlah salah satu kekuatan terbesar literasi.

Literasi bukan sekadar kemampuan membaca tulisan.

 

Literasi adalah rasa ingin tahu yang terus hidup.

Orang yang memiliki rasa ingin tahu akan selalu menemukan sesuatu untuk dipelajari. Ia tidak pernah benar-benar kehabisan teman, karena buku selalu menyediakan percakapan baru. Ia tidak pernah benar-benar kehabisan perjalanan, karena setiap buku dapat menjadi sebuah perjalanan. Ia tidak harus selalu pergi jauh untuk menemukan dunia, karena dunia dapat datang kepadanya melalui halaman-halaman yang dibacanya.

Itulah yang pernah saya alami.

 

·         Ketika hidup saya nomaden, buku membuat saya memiliki rumah.

·         Ketika saya introvert, perpustakaan membuat saya memiliki dunia.

·         Ketika saya merasa sendiri, buku menjadi teman berbicara.

 

Kini, ketika saya melihat anak-anak dan para guru di sekolah, saya sering berpikir: jangan sampai kita kehilangan kebahagiaan sederhana seperti itu.

Di tengah derasnya informasi digital, video pendek, media sosial, ChatGPT, Gemini, dan berbagai teknologi kecerdasan buatan, kita justru perlu menjaga kemampuan manusia yang paling mendasar: membaca dengan sungguh-sungguh, berpikir dengan jernih, dan menemukan makna.

 

Teknologi boleh membantu kita mendapatkan jawaban dengan cepat.

Tetapi buku mengajarkan kita untuk menikmati perjalanan menuju jawaban.

AI mungkin dapat memberikan informasi dalam hitungan detik.

Tetapi literasi mengajarkan kita untuk bertanya: apakah informasi itu benar, penting, dan bermakna? Karena itu, saya ingin mengajak para guru untuk kembali menemukan kegembiraan dalam membaca.

 

·         Tidak perlu langsung membaca buku yang berat.

·         Bacalah sesuatu yang kita sukai.

·         Cerita pendek. Puisi. Novel. Biografi. Sejarah. Pendidikan. Teknologi. Filsafat. Agama. Budaya. Apa saja.

·         Biarkan rasa ingin tahu menjadi pintunya.

·         Setelah itu, mungkin kita akan menemukan bahwa membaca bukan kewajiban yang membosankan, melainkan sebuah perjalanan yang menyenangkan.

·         Dan ketika guru menemukan kebahagiaan dalam membaca, kebahagiaan itu akan menular kepada peserta didik.

·         Sebab anak-anak mungkin lupa apa yang pernah kita perintahkan.

·         Tetapi mereka akan mengingat guru yang mereka lihat begitu bersemangat ketika bercerita tentang sebuah buku, sebuah gagasan, atau sebuah dunia yang baru saja ditemukannya.

 

Maka, jika hari ini kita ingin membangun budaya literasi di sekolah, mungkin kita tidak perlu memulainya dengan slogan yang besar.

 

·         Mulailah dari guru.

·         Ambillah sebuah buku.

·         Bukalah halamannya.

·         Bacalah beberapa halaman.

·         Biarkan rasa ingin tahu tumbuh kembali.

·         Sebab mungkin, di antara halaman-halaman itulah kita akan kembali menemukan diri kita sendiri.

 

Dan siapa tahu, seperti yang pernah saya alami dahulu, sebuah perpustakaan kecil ternyata mampu membuat seseorang yang merasa sendirian berkeliling dunia tanpa pernah meninggalkan kursinya.

 

 

PERPUSTAKAAN KINI SEPERTI MUSEUM

Ketika buku berpindah dari rak ke layar, dan pengetahuan melampaui ruang, waktu, serta biaya

 

Ada sebuah kegelisahan yang belakangan sering muncul dalam pikiran saya.

Jangan-jangan perpustakaan suatu hari hanya akan menjadi museum.

Bukan karena buku sudah tidak penting. Bukan pula karena manusia tidak lagi membutuhkan pengetahuan. Justru sebaliknya. Pengetahuan hari ini tersedia dalam jumlah yang luar biasa besar.

 

Yang berubah adalah cara kita mendatanginya.

Dulu, ketika saya masih muda, perpustakaan adalah tempat yang sangat istimewa bagi saya. Saya seorang yang introvert. Masa muda saya juga cukup nomaden. Berpindah dari satu tempat ke tempat lain, bertemu dengan berbagai orang dan mengalami banyak hal.

Namun saya tidak pernah benar-benar merasa kesepian.

Saya selalu memiliki perpustakaan.

Di ruang itulah saya berkeliling dunia.

Saya bisa pergi ke berbagai negara melalui buku. Mengenal kebudayaan bangsa lain. Membaca sejarah. Menyelami sastra. Mengenal pemikiran para filsuf. Mempelajari bahasa. Membaca cerita yang ringan dan sederhana, tetapi pada kesempatan lain saya bisa berlama-lama di hadapan sebuah buku yang penuh dengan filsafat dan kebijaksanaan hidup.

 

Perpustakaan adalah dunia saya.

Saya tidak membutuhkan banyak uang untuk melakukan perjalanan itu. Cukup datang, memilih buku, duduk, lalu membaca.

Buku membawa dunia kepada saya.

Tetapi dunia kemudian berubah.

Hari ini, sebuah buku tidak selalu harus berada di atas rak perpustakaan.

Ia dapat berada di dalam sebuah telepon genggam.

 

E-book dapat melintasi batas ruang.

Kita tidak harus datang ke perpustakaan untuk mengambilnya. Kita tidak harus menunggu perpustakaan buka. Kita tidak harus mencari rak demi rak. Ribuan bahkan jutaan sumber pengetahuan dapat berada dalam sebuah perangkat yang kita bawa ke mana-mana.

Buku yang dahulu harus dicetak, dikirim, dibeli, disimpan, dan dirawat secara fisik, kini dapat hadir dalam bentuk digital.

Lebih cepat.

Lebih mudah dicari.

Lebih murah, bahkan sebagian dapat diakses secara gratis.

Dan batas geografis hampir tidak lagi menjadi persoalan.

Seorang anak di sebuah kota kecil dapat membaca karya seorang penulis dari belahan dunia lain. Seorang guru dapat mengakses jurnal dari negara yang jauh. Seorang siswa dapat mempelajari bahasa asing tanpa harus pergi ke negara asal bahasa tersebut.

 

Dunia pengetahuan telah masuk ke dalam genggaman.

Kemudian datang lagi sebuah perubahan yang jauh lebih besar: Artificial Intelligence.

ChatGPT, Gemini, dan berbagai AI lainnya bukan lagi sekadar mesin pencari. Teknologi ini dapat diajak berdialog, membantu menjelaskan konsep, memberikan alternatif gagasan, merangkum informasi, membantu menulis, dan membuka kemungkinan baru dalam proses belajar.

Maka pertanyaannya menjadi semakin menarik:

 

·         Jika pengetahuan semakin cepat, semakin lengkap, semakin murah, dan semakin mudah dijangkau, lalu apa yang akan terjadi dengan perpustakaan?

·         Apakah perpustakaan akan menjadi museum?

·         Tempat orang mengenang masa ketika pengetahuan disimpan dalam rak-rak panjang?

·         Tempat anak-anak datang sesekali untuk melihat buku-buku tua?

 

Saya kira tidak harus demikian.

Justru di sinilah perpustakaan harus menemukan kembali maknanya.

Perpustakaan tidak boleh hanya menjadi gudang buku.

Perpustakaan harus menjadi ruang tumbuhnya manusia yang ingin tahu.

Jika dahulu perpustakaan menyediakan buku, sekarang perpustakaan harus menyediakan pengalaman membaca, berdiskusi, menulis, berpikir, mencipta, dan berbagi.

Jika dahulu anak datang ke perpustakaan untuk mencari buku, sekarang mereka dapat datang untuk mencari gagasan.

Jika dahulu rak menjadi pusat perpustakaan, sekarang manusialah yang harus menjadi pusatnya.

Mungkin inilah saatnya kita mengubah cara memandang perpustakaan.

Perpustakaan tidak perlu kalah oleh Google.

Tidak perlu bersaing dengan e-book.

Tidak perlu bermusuhan dengan ChatGPT atau Gemini.

 

Perpustakaan justru harus menjadi tempat manusia belajar menggunakan semuanya secara bijaksana.

Sebab masalah terbesar zaman ini bukan lagi kekurangan informasi.

 

Masalah kita adalah terlalu banyak informasi.

Anak-anak kita bukan kekurangan informasi. Mereka justru dibanjiri informasi setiap hari.

Yang mereka perlukan adalah kemampuan untuk memilih.

Membedakan fakta dan opini.

Mengenali informasi yang dapat dipercaya.

Membaca secara mendalam.

Berpikir kritis.

Menghargai karya orang lain.

Menulis dengan pikiran sendiri.

Dan menggunakan teknologi dengan etika.

Di sinilah literasi menemukan maknanya yang baru.

Literasi bukan sekadar bisa membaca.

 

Literasi adalah kemampuan memahami dunia dan mengambil sikap yang bijaksana terhadapnya. Karena itu, saya membayangkan perpustakaan masa depan bukan sebagai ruangan sunyi yang dipenuhi larangan.

 

·         Saya membayangkan sebuah tempat yang hidup.

·         Ada anak yang membaca.

·         Ada guru yang mencari referensi.

·         Ada siswa yang menulis.

·         Ada kelompok yang berdiskusi.

·         Ada yang membuat podcast.

·         Ada yang belajar menggunakan AI.

·         Ada yang membuat video dari hasil bacaannya.

·         Ada yang mempresentasikan sebuah buku.

·         Ada yang menemukan cita-citanya melalui sebuah cerita.

 

Perpustakaan bukan lagi sekadar tempat menyimpan pengetahuan.

·         Ia menjadi tempat pengetahuan dihidupkan.

·         Dan mungkin, inilah yang harus kita lakukan di sekolah.

·         Bukan mempertahankan perpustakaan karena takut kehilangan tradisi, melainkan menghidupkannya kembali karena kita mencintai masa depan anak-anak.

·         Saya masih percaya pada buku.

·         Saya masih percaya pada halaman yang dibaca perlahan.

·         Saya masih percaya pada perasaan ketika menemukan sebuah kalimat yang tiba-tiba membuat kita memahami sesuatu tentang kehidupan.

·         Teknologi dapat membuat kita mendapatkan informasi dalam hitungan detik.

·         Tetapi ada sesuatu yang tidak boleh hilang:

·         kesenangan menemukan makna.

·         Dulu, saya menemukan dunia melalui perpustakaan.

·         Kini, anak-anak dapat menemukan dunia melalui layar.

·         Tugas kita sebagai guru bukan memilih salah satunya.

·         Tugas kita adalah menjembatani keduanya.

·         Biarkan buku tetap hidup.

·         Biarkan e-book berkembang.

·         Biarkan AI membantu.

·         Biarkan teknologi membuka batas-batas baru.

 

Tetapi jangan biarkan anak-anak kehilangan rasa ingin tahu, kedalaman berpikir, kegembiraan membaca, dan kebijaksanaan dalam menggunakan pengetahuan.

 

Sebab pada akhirnya, yang kita bangun bukanlah perpustakaan.

 

Kita sedang membangun manusia.

 

Dan mungkin, perpustakaan yang paling indah bukanlah perpustakaan yang memiliki buku paling banyak.

 

Melainkan perpustakaan yang membuat seorang anak berkata:

“Saya menemukan sesuatu di sini yang membuat saya ingin tahu lebih banyak tentang dunia.”

 

·         Di situlah perpustakaan berhenti menjadi museum.

·         Di situlah perpustakaan kembali menjadi jendela dunia.

 

SMP Taman Hidayah Cilacap